banner 728x250

Untuk keruk keuntungan, bantaran sungai di Labuhanbatu di alih fungsikan

  • Bagikan
banner 468x60

LABUHANBATU | ketidakpedulian selalu menimbulkan polemik di satu sisi dan sisi lain meraup keuntungan. Ini juga terjadi dan salah satu Bantaran sungai Aek Tapa di mana saat ini terlihat di bantaran sungai berdiri bangunan Rumah toko (Ruko) dan juga ada bangunan lain yang di dalam alur sungai.

Rumah makan Hokat Afifa yang beroperasi tepat di bantaran Sungai Aek Tapa yang membangun warung permanen perlu di tertibkan dan harus di usut tuntas tentang keberadaan lahan yang telah berdiri berbagai bangunan permanen baik dari izin mendirikan bangunan juga di duga mencaplok lokasi penyangga yakni bantaran sungai.

banner 336x280

Hal itu di katakan, Azhar Harahap, aktifis anti korupsi dan pemanantau Aset Negara mengingat telah ada satu kebijakan atau keberanian oknum menyerobot dan mengubah aluh fungsi bantaran sungai.

“Kita akan menyurati guberunur dan bupati untuk mempertanyakan mengapa bantaran sungai di alih fungsikan oleh oknum yang mendirikan bangunan untuk usaha,” tegasnya, Selasa (22/02/2021) di Rantauprapat.

Penggiat anti korupsi yang juga Ketua Lembaga Perlindungan Anak menilai daerah aliran Sungai Aek Tapa tersebut akan di usulkan untuk wisata air anak mengingat lokasinya cukup strategis dan juga dapat memberi edukasi terkait alam perkotaan di samping sejarah terhadap perkembangan kota.

“Sungai Aek Tapa yang dulu di kenal dengan sebutan Titi Payung adalah bagian dari sejarah bahwa ada lokasi sungai dan hingga kini masih menjadi aset negara,” terangnya.

Kehadiran Rumah Makan Holat juga disoroti Azhar mengenai sumbangsih dari pemasukan pajak Rumah makan dan Restoran. Dari investigasi pemerhati anti korupsi tersebut bahwa pembayaran pajak hanya berkisaran empat ratus ribu sebulan. Sehingga di sinyalir ada penggelapan pajak bila melihat setiap harinya para pembeli cukup ramai dan harga penjulan di Rumah makan Holat tergolong katagori mewah.

“Sebulan cuma sekitar 400 ribu, kan di luar kewajaran bila melihat kunjungan pembeli setiap harinya,” tegasnya Jumat, (26/02).

“Kalau di banding KFC dan J, Co pendapatan dari sektor pajak rumah makan dan restoran perbulananya berkisar 30 juta dari KFC, sedangkn J, Co berkisar 20 jutaan bahkan lebih. Artinya kepedulian pihak pengusaha yang notabenenya bukan penduduk lokal membantu daerah dari setoran pajak.
Pemkab di minta lebih tegas agar para pemilik rumah makan lainnya agar menerapkan pemabayaran 10 persen bagi setiap pengunjung yang makan di rumah makan tersebut, tanpa pilih kasih, atau takut karena jabatan pemilik,” pungkasnya.

Keterangan dari pegawai Bapenda yang menangani penerimaan pajak di Dinas Bapenda Labuhanbatu juga bernada sama, bahwa perbulannya rumah makan Holat Afifa hanya menyetor pajak rumah makan dan restoran hanya berkisar Rp 400.000.,
“Kalau holat Afifah sekitar 400 ribu sebulan, dan ini sangat jauh dari harapan,” terang salah seorang petugas Jumat (26/02/2021).

Pewarta: Rico 

Editor: Zainul Nasti 

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan