banner 728x250

Terkait pengeroyokan berujung kematian, Keluarga Korban: Mohon keadilan pak Hakim..! Almarhum merupakan tulang punggung keluarga kami

  • Bagikan
banner 468x60

RANTAUPRAPAT | Lanjutan Persidangan Perkara Pengeroyokan yang menyebabkan meninggalnya Ahmad Tua Siregar kembali digelar Senin (24/05/2021) di PN Kelas IB Rantauprapat dengan Agenda Persidangan Pokok Perkara Pemeriksaan Saksi Korban (Saksi Pelapor).

Jika pada Persidangan sebelumnya (Senin, 17/05/2021) telah diperiksa Saksi Korban (Saksi Pelapor) Juhri Siregar yang merupakan Saudara Kandung Almarhum Ahmad Tua Siregar, maka sidang kali ini giliran 3 Saksi Korban yang melihat kejadian (Tomi Sinaga, Afdillah Naibaho, dan Raja Ilham Munteh). Selain itu, Istri Korban Almarhum Ahmad Tua Siregar yakni Dahlia Hasibuan juga hadir memberikan kesaksian dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Teuku Almadyan, SH, MH sebagai Ketua merangkap Anggota, serta 2 Orang Hakim Anggota masing-masing Rachmad Firmansyah, SH, MH dan Hendrik Tarigan, SH, MH.

banner 336x280

Pada persidangan kali ini tampak juga hadir 2 Orang dari 7 Orang Anak Korban yaitu Anak Pertama Aris dan Anak Terakhir yang masih bayi yang lahir sekitar 3 bulan setelah Korban Ahmad Tua Siregar (Ayahnya) meninggal dunia. Selain itu, hadir juga Kakak Kandung Istri Korban.

Dalam kesaksiannya, Tomi Sinaga menceritakan bahwa dirinya menyaksikan langsung dari Jarak 5 – 10 Meter adanya dugaan penganiayaan terhadap Almarhum Ahmad Tua Siregar yang dilakukan oleh Terdakwa Raja Mustafa Sipahutar Alias Tapa Sipahutar dan Alis Arifin Sipahutar Alias Ipin Sipahutar pada 12 Oktober 2020 di TKP (Tempat Kejadian Perkara) Jalan Lintas Tapanuli tepatnya di Dusun II Untemungkur, Desa Sibito, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labura, Provinsi Sumatera Utara.

“Saya lihat Si Tapa memiting Almarhum (Ahmad Tua Siregar),“ jawab saksi, Tomi Sinaga di hadapan Majelis Hakim saat menjawab pertanyaan JPU terkait apa yang dilihatnya pada saat peristiwa terjadinya dugaan penganiayaan dan pengeroyokan.

Masih menurut keterangan saksi, Tomi Sinaga, kalau yang ia lihat, pitingan itu terlepas karena dibantu oleh Bornok. “Habis itu, Si Tapa mengejar dia (Almarhum) dan menendangnya dari belakang,“ ujar saksi, Tomi yang menjelaskan bahwa dia melihat kejadian dari jarak sekitar 10 meter.

“Habis itu, Bapak itu (Almarhum) tersungkur kemudian berdiri sambil meminta maaf sambil berkata, minta maaflah Aku itu, salahlah Aku itu, Setelah itu, datanglah Bang Ipin, menampar Almarhum itu pakai tangan kiri. Tapi Saya tidak tahu jelas kena kearah mana, tertangkis korban atau tidak,“ lanjut Tomi.

“Selanjutnya Bang Bornok menyusul Almarhum dengan menggunakan sepeda motor Almarhum serta menggoncengnya. Pergi kemana Saya tidak tahu, tapi yang pasti arah Kejaringan (arah Tapanuli),“ jelas Saksi, Tomi lagi.

Ketika ditanya JPU lebih lanjut, apakah Si Tapa mengejarnya?, Tomi membenarkannya.
“ Iya, Si Tapa mengejarnya, karna tidak dapat Dia, Si Tapa balik lagi mengambil sepeda motor Scoopy dan menyusulnya. Setelah itu Saya tidak tahu lagi,” kata Saksi Tomi.

Sementara, saksi lainnya yang memberikan kesaksian adalah Afdillah Naibaho.
“Pas Kami mau pigi Kejaringan ke arah Tobasa (Jalan Tapanuli) dengan jarak 10 meter Saya melihat kereta (sepeda motor) jatuh. Pas kami berhenti, Saya turun dari kereta, sekitar jarak 5 meter Saya melihat Saudara Tapa Sipahutar menunjang Almarhum,” kata Saksi Afdillah Naibaho.

Ketika ditanya JPU lebih lanjut tentang bagaimana posisi Alamarhum saat ditunjang, Saksi Afdillah Naibaho mengatakan, bahwa posisi Almarhum berdiri dan Tapa menunjangnya dari belakang pakai kaki kanan, kemudian Almarhum tersungkur arah ke parit. “Pas Almarhum berdiri dan minta maaf, Ipin menampar dan menumbuk. Menampar pakai tangan kiri. Hanya itu yang Saya tau Buk,“ jelas Saksi, Afdillah Naibaho menjawab pertanyaan JPU Susi Sihombing.

Sementara itu, Raja Ilham Munteh dalam kesaksiannya menerangkan, Pertama-tama ia bersama-sama dengan Afdillah Tomi naik Honda (Sepeda Motor) bergoncengan.
“Dengan (posisi) Saya ditengah, mau mencari jaringan (Signal HP), tiba-tiba sekitar jarah 10 meter Bang Afdillah mendengar ada suara, ada yang melanggar anak-anak, sama jatuh, begitu. Kami akhirnya memutar (sepeda motor). Saya turun, melihat Tapa menunjang Almarhum dan Ipin memukul. Sepeda motor Almarhum terjatuh arah kanan dan ada korbannya (anak kecil) berdiri, ada luka di kepalanya,” jelas Saksi Ilham.

“Tapa menunjang dari arah belakang pakai kaki kanan ke bagian punggung hingga Almarhum tersungkur,“ kata Saksi Ilham sambil mempraktekkan cara Tapa menunjang Almarhum di Persidangan.

Masih menurut kesaksian Ilham. “Kemudian Bapak itu (Almarhum) bangun berdiri dan minta maaf. Bang Ipin datang memukul (menampar) dengan tangan kiri,“ jelasnya.

Selanjutnya Hakim mempertanyakan kepada Saksi Ilham.
“Apakah seluruh BAP yang dibuat oleh Saksi dihadapan Penyidik (Kepolisian) sudah benar adanya?.
Saksi Ilham menjawab.
“ Benar Pak l, ” jawabnya singkat.

Kemudian Hakim mengkonfrontir keterangan Saksi kepada Para Terdakwa secara Daring.
“ Apakah keterangan Saksi betul adanya ?,“ tanya Hakim.
Terdakwa menjawab.
“ Sebagian betul sebagian salah Pak,”.

Selanjutnya JPU mencecar Para Terdakwa.
“Yang benar dari keterangan Saksi yang mana?”. Sayangnya jawaban dari Para Terdakwa kurang dapat terdengar dengan jelas karena kemungkinan ada gangguan signal Secara Daring.

Kesaksian lainnya adalah dari Dahlia Hasibuan, Istri Korban Ahmad Tua Siregar. Diawal kesaksiannya, Hakim Ketua, Teuku Almadyan mengajukan pertanyaan kepada Saksi Dahlia.
“Apakah sudah ada perdamaian antara Pihak Keluarga Korban dengan Pihka Keluarga Terdakwa ?” tanya Hakim Ketua.
“ Tidak ada Pak,“ jawab Dahlia Hasibuan.

Selanjutnya, Hakim Anggota Rachmad Firmansyah mengajukan pertanyaan kepada Saksi Dahlia. Salah satu materi pertanyaan Hakim Rachmad adalah apakah Saksi sebagai istri korban ada melihat luka-luka pada jenazah korban ? “ Ada memar, lembam , dan lecet-lecet begitu “ jawab Saksi Dahlia.

Pertanyaan berikutnya kepada Saksi Dahlia Hasibuan datang dari JPU Susi Sihombing, yang mempertanyakan apakah sebelumnya ada riwayat sakit dari Suaminya yang dalam hal ini Korban Alamarhum Ahmad Tua Siregar ? Saksi Dahlia menjawab “ tidak ada “. Kemudian ditanya lagi oleh JPU, sudah berapa lama Saksi berumah tangga dengan Korban (Suaminya) ? “ Nikah sejak tahun 1998 “ jawab Saksi Dahlia.

Dipertegas lagi oleh JPU, sebelumnya sejak tahun 1998 (sejak pernikahan) apakah ada riwayat penyakit Suaminya (Korban-Almarhum) seperti sakit jantung, asma, dan sebagainya ? Dijawab lagi oleh Saksi “ tidak ada “ tungkas Dahlia Hasibuan.

JPU Susi Sihombing kemudian melanjutkan, “ turut berduka ya Ibu, selamat juga lahir anaknya ya. Berapa Orang anak dari Bapak itu ? “ Dijawab oleh Saksi “ 7 Orang “ jawab saksi di hadapan Majelis Hakim yang menggendong Bayi-nya yang baru berumur sekitar 4 Bulan.

Pada akhir persidangan, Hakim Ketua mengumumkan bahwa Sidang ditunda sampai Senin Depan (31/05/2021) dengan Agenda masih mendengarkan Keterangan Para Saksi.

Sidang kali ini, disamping dihadiri Para Saksi Korban/Pelapor, juga tampak hadir Kuasa Hukum Keluarga Korban Fitra Akbar Sanjaya Siregar, SH, dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Susi Sihombing, SH. Adapun Penasehat Hukum Terdakwa yang menghadiri persidangan adalah Muhammad Yusuf Siregar, SHI, MH. Sementara Kedua Terdakwa Raja Mustafa Sipahutar Alias Tapa Sipahutar dan Alis Arifin Sipahutar Alias Ipin Sipahutar mengikuti sidang Secara Daring dari Lapas Kelas Kelas IIA Rantauprapat.

Seusai persidangan, Wartawan LH (liputanhukum.com) berhasil mewawancarai Istri Korban Dahlia Hasibuan yang didampingi Anak Pertamanya Aris. Sambil menggendong Bayinya yang baru berusia 4 Bulan, Dahlia menceritakan secara singkat ‘derita’ yang dialaminya setelah kepergian Sang Suami untuk selamanya Almarhum Ahmad Tua Siregar yang meninggal dunia Pada Senin (12/10/2020-Red) yang diduga akibat pengeroyokan yang Perkaranya sedang disidangkan di PN Rantauparapat. “ Awalnya aku tidak percaya sewaktu dikabari kalau suamiku meninggal, karena saat berangkat dari rumah dia dalam keadaan sehat. Seperti biasanya, setelah serapan pagi Dia langsung berangkat kerja ‘maralong-along’ (dagang antar kampung) ke Tapanuli. Tapi setelah mayatnya sampai di rumah, aku dan anak-anakku shok dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya “ pungkas Dahlia dengan mata berkaca-kaca, tampak ada butiran air mulai mengalir ke pipinya (Senin, 24/05/2021).

Ketika ditanya apakah ketika masih hidup Alamarhum Suaminya hanya punya pekerjaan ‘maralong-along’ satu-satunya ? “ Ya Bang, itulah pekerjaan yang ditekuninya hingga akhir hayatnya “ jawab Dahlia.

Setelah Almarhum Suaminya meninggal, bagaimana Dahlia memperjuangkan dan menghidupi dirinya serta 7 Orang anak-anaknya itu ? “ Saya hanya bisa berjualan di rumah karena gak bisa kemana-mana karena anak saya masih kecil “ lanjutnya sambil nepuk-nepuk bayi 4 bulan yang ada digendongannya.

Sebagai Clossing Statement, Dahlia yang didampingi Anak Sulungnya Aris sambil memegang sebuah poster bertuliskan ‘MOHON KEADILAN PAK HAKIM ! Almarhum Merupakan Tulang Punggung Keluarga Kami’ menyampaikan, “ Kami bersama anak-anakku hanya berserah kepada Allah, dan memohon kepada Bapak-Bapak Hakim Yang Mulia, Ibu Jaksa yang menangani perkara ini agar membuat keputusan yang seadil-adilnya. Itu aja Bang ! “ tutup Dahlia yang tampaknya sudah tak sanggup menahan kesedihannya.

Pewarta: Rico
Editor: Zainul Nasti

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan