Sarana bermain anak pantai sangat minim

  • Bagikan
Anak pantai Sei Berombang, Labuhanbatu.
banner 468x60

VALITO.ID | LABUHANBATU | Sarana bermain yang juga termasuk proses belajar dalam tumbuh kembang di lingkungan anak pantai yang hidup di pesisir Sei Berombang sangatlah minim sehingga dapat mempengaruhi pola pikir mereka dalam mempersiapkan persaingan di masa depan.

Dari berbagai sumber yang di dapat, bahwa sejak kecil mereka hanya akrab bermain dengan air dan untuk sarana bermain lain, seperti sepak bola anak, volly anak, atau berbagai permainan lainnya tidak mendapat arahan serta tempat bermain.

banner 336x280

Adalah Ahmad yang kini berusia 20 tahun menceritakan kehidupan masa kecilnya lebih dominan bermain di air dan juga di tuntut untuk membantu orang tua yang kala itu kehidupan keluarga nya sangatlah jauh dari cukup.

“Kalau waktu kecil paling main di sungai, dan membantu orangtua, kadang ikut nyari ikan,” terangnya, Kamis, (4/6).

Mengingat masa kecilnya, Ahmad yang kini telah berumah tangga tidak bisa membayangkan terhadap anak – anak yang ada di pesisir pantai Sei Berombang karena pola bermain mereka sekarang tidaklah jauh berbeda. Terkhusus di lingkungan Sei Baru tidak adanya lokasi yang di sediakan pemerintah taman bermain dan juga tidak tampak ada pusat Pendidikan Anak Usia Dini alternatif tempat anak bermain.

“Yah, beginilah bang, anak-anak disini butuh perhatian, serta bantuan agar mereka tumbuh sehat dan pintar, cukuplah kami aja yang kayak gini,” ucap pria ini yang bekerja sebagai nelayan.

Salah satu bocah, Fahrudin usia 11 tahun yang sedang bermain di atas boat saat diajak berbincang tentang sepak bola terlihat serius dan bercerita tentang pemain idolanya. Namun suaranya terdengar lirih saat melihat video rekaman akrifitas anak seusianya berlatih dan bermain bola.

“Wih, enak nya, kok kami di sini nggak bisa main bola, tak ada lapangan,” ucapnnya lirih.

Itu juga di harapkan Asri pelajar kelas 3 SD, sepak bola merupakan hobbynya, tapi untuk menyalurkan bakatnya tidak semudah anak kota. Di samping biaya yang mahal juga perhatian dari yang peduli tidak ada. Jadi kalaupun mau bermain bola, hanya memakai bola plastik atau buah kelapa kosong.

“Kalau mau main bola, pakai buah kelapa kosong, atau bola plastik,” ungkapnya dengan nada polos.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Labuhanbatu, Azhar Harahap ST Ketika dikonfirmasi tentang minimnya tempat bermain anak dan juga terkait kabupaten layak anak yang di sandang kabupaten Labuhanbatu sementara kebutuhan ruang bermain anak masih jauh dari harapan.

Menurutnya, hal itu menjadi pekerjaan rumah Pemkab dan program kedepan harus benar-benar terakomodir secara aturan sudah ada kesepakatan bahwa setiap desa/kelurahan mengajukan anggaran untuk program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Sehingga ada perhatian dari berbagai pihak terhadap hak anak bukan semata hanya orang tua saja.

“Kita akan minta bupati untuk melaksanakan perlindungan terhadap anak menjadi skala prioritas, arti anak harus terjamin dalam menjalani kehidupan, sarana bermain dan juga keselamatan,” jelasnya, Jumat, (5/6).

Pewarta: Zainul Hasibuan
Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan