Pukat tarik 2 merajalela, nelayan penjaring terancam

  • Bagikan
Boat para nelayan tradisional yang menopang hidup dari cara menjaring ikan
banner 468x60

VALITO.ID | LABUHANBATU | Kerusakan habitat perairan Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu serta hasil tangkapan ikan yang sangat menurun. Hal menjadi perhatian yang harus di sikapi. Keberadaan pukat tarik dua yang melakukan penangkapan ikan menjadi salah satu peyebabnya.
Itu di katakan beberapa nelayan tradisional saat mengeluhkan nasib mereka beberapa tahun ini. Hasil tangkapan drastis menurun.

Sementara para pemilik pukat tarik dua berhasil sukses dengan perolehan pertahun 1,5 M s/d 3 M. Hitungan ini berdasar kabar yang didapat dari gaji tekong perbulan 25 juta s/d 30 Juta perbulan.
Dengan banyaknya boat pukat dua beroperasi sekitar 40 set ini membuat pencari ikan memakai sistem penjaringan merasa terancam. Pendapatan tidak lagi sesuai, Namun hingga kini tidak ada upaya pemerintah menertibkan hal tersebut.

banner 336x280

Tekong itu di gaji 10 persen dari hitungan pendapatan perbulan, kira kira 25 sampai 30 juta lah yang di terima tekong, ungkap Asri salah seorang dari nelayan, Kamis, (4/6).

Di lanjutkan para nelayan yang menopang hidup dari cara menjaring ikan, kegelisahan itu sebenarnya harus di sikapi aparatur penegak hukum bila melihat surat edaran yang ada serta menjaga habitat perairan sei berombang.

Kami ini susah, abang tengokkan ada stiker PKH, seharusnya pemerintah melarang beroperasi pukat tarik dua, agar kami bisa meningkatkan penangkapan, nggak tergantung PKH terus, tukasnya.

Dari investigasi di lokasi seputaran tambatan kapal di sepanjang bibir sungai, terlihat beberapa kapal pukat tarik dua tertambat.

Toukenya orang non pribumi, harga satu kapal saja hampir 500 juta, kok orang kita manalah mampu punya boat kayak gitu, ucap warga yang keseharian berdagang.

Ketua DPP Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Perlindungan Aset Negara (LSM LIPAN) Labuhan batu, Samsul Sitepu meminta agar Kepala Kepolisian Sumatera Utara agar turun ke Sei Berombang untuk menghentikan operasional Pukat Tarik Dua. Satu sisi untuk menyelamatkan habitat sungai juga untuk memberikan peluang bagi nelayan tradisional sesuai Undang undang RI No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang Undang RI no 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, UU no 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Dan juga beberapa Peraturan pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 Tentang Perkapalan, Permen Kelautan Dan Perikanan Nomor 01/PERMEN KP/ 2005 tentang Penangkapan Kepiting dan Ranjungan.
Serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 02/PEREMEN -KP /2015 tentang larangan Penggunaan alat Tangkap Ijan Pukat Hela (Trawls) dar Dab Pujat Tarik (Senne Nets) di wilayag Pengelolaan Perikanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sehingga alat tangkap Pukat Tarik Dua termasuk yang di larang, Kepolisian Sumatera Utara harus menghenghentikan ini, tegasnya di Sei Berombang.

Pewarta: Zainul Hasibuan
Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan