banner 728x250

Meski lambat seperti jalannya keong, proses hukum untuk PT NSJ tetap berjalan di Polres Labuhanbatu

  • Bagikan
Wardin sambil memperlihat sepucuk Surat Pemberitahuan Hasil Perkembangan Penyidikan (SP2HP) bernomor :B/75/I/Res.1.24/2021/Reskrim tanggal 20 Januari 2021 yang ditanda tangani Ajun Komisaris Polisi (AKP) Parikhesit,SH,SIK,MH selaku Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Labuhanbatu.
banner 468x60

RANTAUPRAPAT | Meski lambat seperti jalannya keong dan sudah mencapai waktu lewat dari dua tahun proses hukum kejahatan tindak pidana ketenagakerjaan di PT Nagali Semangat Jaya (PT NSJ) sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Desa Sono Martani Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara masih berjalan di Polres Labuhanbatu.

Wardin, ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Labuhanbatu dalam kapasitasnya sebagai kuasa pendamping menyampaikannya kepada VALITO.id dan Koran Perdjoeangan Online, Kamis (20/01) di Polres Labuhanbatu.

banner 336x280

“Walaupun lambat seperti jalannya keong proses hukumnya biarlah, kami bisa memakluminya sebab Buruh kan masyarakat yang tidak pernah diperhitungkan dan dianggap keberadaannya di Negeri yang merdeka dan berdaulat ini, wajarlah diperlakukan seperti ini, lain cerita kalau kondisi Buruh orang terhormat dan terpandang dapat kita pastikan dijadikan skala perioritas perkaranya,” kata Wardin.

“Kasus tetap berjalan ini buktinya,” jelas Wardin sambil memperlihat sepucuk Surat Pemberitahuan Hasil Perkembangan Penyidikan (SP2HP) bernomor :B/75/I/Res.1.24/2021/Reskrim tanggal 20 Januari 2021 yang ditanda tangani Ajun Komisaris Polisi (AKP) Parikhesit,SH,SIK,MH selaku Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Labuhanbatu.

Angka 4, pada SP2HP tersebut menjelaskan, rencana tindak lanjut proses penyidikan adalah melakukan pemanggilan terhadap bagian Krani (pegawai yang membayarkan gaji/upah buruh) PT Nagali Semangat Jaya.

“Dan semoga hal ini benar dilaksanakan oleh penyidik dan bukan hanya sekedar PHP (Pemberi Harapan Palsu),” timpalnya.

“Apa mau kita bilang, mau berteriak, menjerit, menangis sampai keluar air mata darah juga gak ada gunanya, karena memang seperti inilah kondisi hukum di negeri yang katanya sudah merdeka ini, buruh itu memang mereka anggap bukan manusia tetapi alat atau mesin produksi untuk menciptakan keuntungan bagi pemilik modal dan sebagai alat untuk melegalisasi kepentingan para elit, kita jangan pernah berbicara tentang hati nurani kemanusiaan sebab rasa kemanusiaan di negeri yang merdeka dan berdaulat ini sudah hampir punah,” tegas Wardin

Pewarta: Anto Bangun/Sept
Editor: Zainul Nasti

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan