Ludah yang Membawa Petaka (Bag:4)

  • Bagikan
Ludah yang Membawa Petaka (Bag:4) Penulis : ZA Nasti
banner 468x60

VALITO | “Hasil dari pandangan batinku, bahwa adikmu di sukai seorang wanita, namun adikmu menolaknya secara kasar dengan cara meludahinya,” kata pak Zailani.

Mendengar perkataan pak Zailani, aku merasa percaya dan tidak percaya.

banner 336x280

“Kalau itu menurut bapak, alangkah baiknya kita hari ini berangkat pak,” ucapku.

“Baik, mari kita berangkat sekarang. Saya akan bersiap-siap,” kata pak Zailani.

Tepat dipertengahan jalan, tiba-tiba mobil yang kami naiki mendadak mati. Padahal beberapa minggu yang lalu mobil sudah aku service.

“Kenapa bg, mobil kita,” ucap istriku.

“Gak tau ma, tiba-tiba saja mendadak mati,” ucapku.

“Sudah kita turun saja dulu semua,” kata pak Zailani.

Kami pun semua turun dari mobil.

Kemudian aku melihat pak Zailani mengelilingi mobil kami, dengan menulis sesuatu di mobilku dengan isyarat tangan.

“Sudah, coba dinyalakan mobilnya,” suruh pak Zailani.

“Apa, pak..!,” kataku.

“Hidupkan,” katanya.

Akupun langsung masuk ke mobilku untuk menghidupkannya. Ternyata tanpa di sangka-sangka mobilku kembali hidup.

Kamipun kembali melanjutkan perjalanan kami.

“Kok bisa hidup ya pak, padahal aku sudah berkali-kali menstarternya,” ucapku.

“Biasalah, namanya kita sedang di uji sama tuhan,” jelas pak Zailani.

Akhirnya, tepat jam 5 sore kami tiba di rumah bapak.

“Silahkan masuk,” kata ibuku.

Kami pun masuk ke dalam rumah.

Kemudian, bapakku pun menyalami kami dan pak Zailani.

“Sebentar pak, istirahat saja dulu ya,” kata bapakku seraya mengajakku ke dapur kami.

“Ingat ya Rama, ini sudah ke sekian kalinya kita berurusan sama paranormal tapi hasilnya nol besar,” kata bapakku.

“Tenanglah pak, kita coba sajalah pak,” kataku.

Seusai maghrib, kamipun langsung membahas peristiwa yang menimpa adikku, Anwar.

“Gimana pak, selanjutnya, apa si Anwar kami bawa kesini” kata bapakku.

“Tak usah pak. Menurut pendapat saya, kita harus mengeluarkan benda dalam tanah,” kata pak Zailani.

“Benda apa pak,” kataku.

“Benda yang ditanam di sekitar rumah ini,” kata pak Zailani.

“Benda apa itu pak,” kata bapakku.

“Nanti sama-sama kita lihat,” kata pak Zailani.

“Kapan pak kita lakukan,” kataku.

“Sekarang,” kata pak Zailani.

 Kamipun langsung keluar rumah untuk mencari benda yang disebutkan pak Zailani.

Kami melihat pak Zailani membacakan do’a-do’a yang tak pernah aku dengar, bukan ayat suci atau bahasa arab.

“Benda itu ada di sana,” kata pak Zailani.

Ternyata telunjuk pak Zailani menunjukkan ke arah jendela luar rumah si Anwar.

“Ayo gali tanah itu, tepat di bawah jendela,” kata pak Zailani.

Akupun langsung mengambil cangkul dan menggali tanah itu.

Tapi, tetap tidak menemukan apapun.

“Tidak ada sesuatu pak,” kataku.

“Teruslah gali,” kata pak Zailani.

Akhirnya, tepat di kedalaman setengah meter, cangkulku seperti mengenai sesuatu.

“Apa ini pak,” kataku.

“Jangan di pegang, biar saya saja,” kata pak Zailani.

Benda itu adalah seperti bungkusan kain putih kecil, mirip pembungkus mayat.

Kemudian, pak Zailani langsung membukakan kain putih yang berbungkus seperti bungkusan mayat itu.

Ternyata isi dari bungkusan yang berbalut kain kafan itu berisikan tulang belualang.

“Ini adalah tulang hewan jenis hewan Kukang, hewan pemalu, makanya adikmu seperti orang pemalu” kata pak Zailani.

Bapak hanya bisa menghela nafas dan seraya masuk ke dalam rumah.

Kemudian tepat pukul 11 malam pak Zailani aku antarkan ke loket Bus atas permintaannya agar segera pulang ke rumahnya.

“Baik Rama, minggu depan jangan lupa datang ke rumah bapak untuk pengobatan terakhir agar si Anwar sembuh total, karena si Anwar masih 75 persen sembuhnya,” kata pak Zailani.

“Baik pak,” kataku.

Akhirnya Anwar kembali seperti biasanya, namun sayangnya aku belum sempat datang ke rumah pak Zailani.

Sehingga kesembuhan Anwar tidak sepenuhnya berhasil.

Lantaran, Anwar sering berubah-ubah pikiran dalam melakukan sesuatu.

Peristiwa itu kujadikan instropeksi bagiku dan keluargaku, agar selalu menghormati orang lain dan hidup sederhana tanpa menyakiti perasaan orang lain. Selesai.

Penulis : ZA Nasti

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan