banner 728x250

Ludah yang Membawa Petaka (Bag: 3)

  • Bagikan
Ludah yang Membawa Petaka (Bag: 3) Penulis: ZA Nasti
banner 468x60

Kemudian aku menceritakan semua kejadian menimpa Anwar, namun tiba-tiba Anwar meludahi dr Yaser.

“Cuiiihh… ” Anwar meludahi muka dr Yaser.

banner 336x280

“Anwar, kenapa kau, ini dokter, tidak boleh begitu,” bentakku.

“Aku mau pulang,” teriak Anwar keras.

“Aku mau pulaaaang,” teriaknya lagi.

Akhirnya, aku membawa pulang Anwar, dan tentunya dr Yaser maklum dengan kejadian itu dan menyarankan agar Anwar di bawa pulang saja serta mencari pengobatan alternatif. Dr Yaser juga berpesan penyakit Anwar bukan penyakit kebiasaan umum.

Kamipun sampai di rumah dan Anwar kembali memasuki kamarnya kembali, seraya menghempaskan pintu kamarnya. Bapak dan ibu pun merasa heran dan aku menerangkan kejadian di klinik kejiwaan itu tadi kepada mereka.

Hari pun berlalu, sudah hampir 3 bulan Anwar masih seperti itu dan parahnya penyakitnya semakin menjadi-jadi, semua barang-barang pun di hancurkannya dari televisi, gelas, piring dan sebagainya hancur.

Bapak dan ibu hanya bisa pasrah dan memang ada niat untuk membawa Anwar ke Rumah Sakit Jiwa tapi mereka tak tega, takut terjadi sesuatu yang tidak baik bagi Anwar.

Selesai shalat Isya’ istriku memanggil untuk mengajakku makan malam.

“Bang, sudah selesai shalatnya, ayo kita makan,” ajak istriku.

“Iya ma,” kataku.

Akupun pergi ke ruang makan kami.

“Anak-anak sudah makan ma,” tanyaku.

“Sudah bang, itu mereka sedang belajar ngerjakan PR,” kata istriku.

Kamipun makan bersama.

“Bang, gimana kabar Anwar,” kata istriku sembari sambil makan.

“Kata bapak, semakin parah saja, barang-barang hancur di buatnya,” kataku.

“Bang, gimana kalau kita bawa saja berobat ke paranormal, karena aku cerita ke tetangga bahwa ada keluarganya kena penyakit seperti itu lalu perlahan sembuh bahkan sudah berkeluarga dan berkerja,” kataku.

“Aku tidak percaya yang seperti itu ma,” kataku.

“Ya sudahlah bang, aku cuma memberikan saran saja kok,” kata istriku.

Selesai makan, akupun duduk santai di depan rumahku, dan sambil membaca postingan di media Facebook, kemudian ada sebuah postingan yang membuat aku tertarik. Postingan itu bertuliskan leteratur Islami yang bertuliskan satu ayat Al Quran yang artinya “Orang yang beriman kepada yang ghaib dan mendirikan shalat dan membayar zakat”.

Akupun tertegun memaknai tulisan postingan itu, dan merasa memaknai arti postingan itu.

“Ma, oh ma,” aku panggil istriku.

“Apa bg,” sahut istriku.

“Dimana rumah paranormal yang di ceritakan tetangga itu,” kataku.

“Iya, nanti aku tanya ya bang,” kata istriku.

Hari selanjutnya, kami berencana mengunjungi rumah paranormal tersebut.Dan tentunya aku komunikasi kan terlebih dahulu dengan bapakku.

“Assalamualaikum pak,” aku menelponnya.

“Waalaikum salam,” jawab bapak.

“Pak, aku berencana membawa paranormal untuk mengobati Anwar,” kataku.

“Tapi kan sudah puluhan paranormal kita bawa kemari, namun omong kosong semuanya,” kata bapak.

“Kita coba dulu ya pak?,” kataku.

“Ya sudahlah, tapi kalau ini gak bisa juga, kita bawa saja si Anwar ke Rumah Sakit Jiwa,” kata bapak.

“Baiklah pak, bapak yang sabar ya pak. Smoga semua baik-baik saja,” kataku.

“Baiklah Rama,” kata bapak seraya menutup telpon.

Tepat jam 10 pagi, selama 2 jam perjalanan, akhirnya aku dan istriku tiba di rumah paranormal yang di ketahui namanya adalah Pak Zailani.

“Assalamualaikum,” kata kami.

“Waalaikum salam,” kata seorang perempuan separuh baya, yang aku pikir itu adalah istrinya pak Zailani.

“Ada perlu apa ya,” kata wanita itu.

“Kami mau bertemu dengan pak Zailani, apa ada bu?,” kataku.

“Owh iya, bapak kebetulan ada, sebentar ya saya panggil,” kata wanita itu.

Akhirnya selama 15 menit kami menunggu, Pak Zailani pun menghadap kami.

Kamipun menyapanya.

“Saya sudah tahu kedatangan kalian kemari, adik kamu agak gemukkan, sedang sakit sekarang, kira-kira mau tamat SMA kan,” kata paranormal itu.

“Owh iya pak, kok tau pak,” kata istriku.

“Iya, ya sudah kapan kita berangkat,” kata pak Zailani.

“Ngomong-ngomong adik saya sakit apa sih pak, bapak sepertinya tau kondisi adik saya,” kataku.

“Menurutku ini adalah perbuatan orang yang sakit hati sama adikmu,” katanya.

“Kok bisa pak,” kataku.

“Hasil dari pandangan batinku, bahwa adikmu di sukai seorang wanita, namun adikmu menolaknya secara kasar dengan cara meludahinya,” kata pak Zailani.   (Bersambung…)  

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan