banner 728x250

Ludah yang Membawa Petaka 1

  • Bagikan
banner 468x60

Cuaca pagi ini begitu dingin dan berkabut seolah menusuk hingga kedalaman kulit ari-ari ini, di temani secangkir kopi dan salah satu temanku, serta tersisip kenangan yang tak akan aku lupakan dan menjadi iktibar bagiku dan keluarga kecilku. Sebutlah namaku Rama, yang saat ini aku telah berkerja di salah satu Dinas pemerintahan di salah satu kabupaten Indonesia. Saya sudah berkeluarga dan mempunyai 3 anak, 1 perempuan dan 2 anak lelaki. Cerita ini saya kisahkan secara nyata dan sebelumnya saya tidak percaya dengan hal-hal yang berbau ghaib atau tahayul istilahnya.

Dan perihal kejadian itu aku ceritakan dengan salah temanku. Sebut saja Arif.
Saat itu, sekira 15 Tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2005 saya sedang bertugas di luar kota, dan suara ponselku tiba-tiba saja berdering yang bertuliskan nomor bapak ku yang memanggil di layar ponsel itu.

banner 336x280

“Assalamualaikum,” kata bapakku.
“Waalaikum Salam,” sambutku.
“Rama, dimana kau sekarang,” kata bapak.
“Sedang jalan pak, mau tugas luar pak, kenapa pak?,” kataku.
“Ada yang mau bapak sampaikan,” kata bapak.
“Iya, ada apa sih pak, sepertinya ada yang penting,” ucapku.
“Begini, kapan kau pulang, si Anwar adikmu sakit, kalau bisa selesai tugas langsung ke rumah bapak ya,” kata bapakku.
“Iya pak, Insya Allah,” jawabku.
Ponselku pun aku matikan.

Di dalam mobil sedan ini, akupun bergumam dalam hati.
“Ada apa sebenarnya ini, sehingga bapak dengan nada cemas dan adikku yang paling kecil si Anwar kenapa tiba-tiba sakit padahal kemarin ku telpon masih baik-baik saja, semoga semua baik-baik saja,” kata hatiku.

Tak terasa 3 hari aku lalui dimasa tugas luarku, aku langsung beranjak pulang ke rumah orangtuaku, selama 5 jam perjalanan yang aku tempuh untuk melihat adikku yang katanya sedang sakit. Dan sebelumnya aku telah meminta izin dengan istriku untuk menjenguk adikku yang sakit itu.

“Assalamualaikum Ma,” kataku menghubunginya dengan ponsel.
“Waalaikum Salam Pa, Papa dimana ini,” kata istriku.
“Papa mau langsung ke rumah bapak, Anwar mendadak sakit,” kataku.
“Sakit apa Pa, si Anwar,” kata istriku.
“Ntahlah Ma, belum tahu Papa,” kataku.
“Owh iyalah Pa, hati-hati dijalan ya Pa,” kata istriku.
“Iya Ma, Assalamualaikum,” ucapku, sembari menutup pembicaraanku.

Akhirnya, usai azan Dzuhur aku tiba di kediaman orangtuaku, aku lihat kakak laki-laki dan kakak perempuanku menatapku tajam seakan mereka ingin menceritakan apa yang terjadi. Tak lamapun, bapak dan ibu menyambutku.
“Baru sampai Rama,” kata ibu.
“Iya Mak,” kata ibuku.
“Saya shalat Dzuhur dulu ya, soalnya Rama belum Shalat Mak,” kataku.
“Oh iyalah,” kata ibuku.

Akupun langsung masuk menuju kamar mandi, serta melintasi kamar adikku yang tertutup, dan aku coba membukanya tapi pintu itu terkunci.
“Mungkin selesai shalat ajalah aku bicara sama adikku,” kata hatiku.

Selesai Shalat, akupun langsung menuju ruang tamu kulihat hanya tinggal ibu dan bapakku saja di situ.
“Kemana Bang Umar dan kak Sari Pak,” ucapku.
“Itu mereka ada tamu yang datang, katanya soal kerjaan, ayo minum dulu teh itu, emak mu yang buat sewaktu kau Shalat,” kata Bapak.
Lalu aku meminum teh yang masih panas itu, dan langsung membicarakan pokok keadaannya.
“Sebenarnya si Anwar kenapa sih pak, pintu kamar terkunci, biasanya gak pernah seperti itu lho, biasanya dia riang aku datang,” kataku.
“Benar nak,” kata emak.
“Begini Rama, sudah 4 hari dia berdiam diri dikamar itu, di panggil tidak mau nyahut, di sapa juga diam, kalau makan di ke dapur lalu masuk lagi ke kamar, entah apa yang terjadi dengannya,” jelas bapakku.
“Jadi hal itu terjadi sejak aku dinas luar atau bapak yang kemarin nelpon aku itu ya,” kataku.
“Iya Rama,” kata ibu.

Akupun berpikir dan mencoba mencari jalan solusi agar hal ini segara selesai.
“Coba aku komunikasi dengan dia ya mak, ya pak,” kataku.
“Iya Rama,” kata ibu.
“Tok, tok, tok. Anwar, ini abg datang. Buka dong pintunya, Anwar, Anwar…..,” kataku dengan keras.
Namun, tak ada respon dari si Anwar untuk menyahut panggilanku.
Aku mencobanya lagi. Sekali ini dengan suara keras.
“Tok tok tok, Anwar kau dengar tidak, keluar dulu dari kamar, Anwar buka Anwar,” teriakku.
Namun lagi-lagi respon pun tidak ada dari si Anwar.
Akupun kembali ke ruang tamu bersama ibu dan bapakku.

“Gimana nak,” kata ibu.
“Gak ada respon mak,” kataku.
“Jadi apa yang harus kita lakukan, kita tidak bisa melihatnya seperti itu,” kata bapak.
Kemudian, secara tiba-tiba si Anwar keluar dari kamarnya, menuju dapur.
“Itu dia keluar mak, pak,” kataku.
“Iya dia mau makan itu, tapi nanti masuk kamar lagi,” kata ibuku.

Aku pun mencoba menghampirinya.
“Anwar,” kataku padanya.
Lalu dia diam saja.
“Benar kata orangtuaku,” gumamku.
“Anwar, kenapa kau,” kataku.
Namun lagi-lagi dia tidak menyahut, bahkan melihatku saja dia tidak.
Tapi dari sorot matanya aku melihat kekosongan dan kepalanya selalu tertunduk.
Lalu aku lihat dia berjalan, membawa piring serta nasi itu ke kamarnya, tanpa merespon aku dan bicara sepatah katapun    (Bersambung)

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan