Diduga ada kejanggalan, keluarga minta Presiden Jokowi dan Kapolri tuntaskan kasus kematian Hendri Bakary

  • Bagikan
Jenazah Hendri ketika berada di ruang jenazah rumah sakit Budi Kemuliaan dengan kondisi badan penuh luka lebam dan kepala dibungkus plastik. (ART/valito.id)
banner 468x60

VALITO.ID | DKI JAKARTA | Keluarga Hendri Alfred Bakary, korban meninggal dunia diduga akibat penganiayaan aparat polisi menuntut Kapolresta Barelang, Batam, Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro meminta maaf dan mengusut tuntas pelaku di balik penganiayaan tersebut.

Bapak Kapolri harus segera menuntaskan kasus ini. Tuntutan kami sih jelas, bahwasanya kami itu ingin Bpk Jokowi serta Kapolri segara ungkap kasus ini secara terang benderang dan berani menghukum oknum-oknum yang terlibat serta menjelaskan secara terang dan usut tuntas pelaku yang melakukan kekerasan sehingga mengakibatkan Kak Otong (Hendri) meninggal, ujar sepupu korban, Christy Bakarie, dalam konferensi daring, Rabu (12/8).

banner 336x280

Disisi lain juga, kekerasan yang terjadi kepada Hendri tidaklah manusiawi, pasalnya di Indonesia sendiri sangat melarang keras adanya Euthanasia apalagi kalau dugaan keluarga benar bahwa meninggalnya Henri diduga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian.

“Praktik-praktik penyiksaan ini masih kerap dilakukan sebagai bentuk penghukuman terhadap para tersangka, selain factor itu ialah polisi terindikasi yang melakukan penyiksaan sering kali dilindungi, maksud dari di lindungi adalah mekanisme yang dilakukan oleh penyidik hanya sampai kepada proses disiplin dan etik padahal penyiksaan merupakan tindak kejahatan yang mana harus di proses dan diadili secara pidana,” terang Andi dari KontraS.

Pihak keluarga, seperti diungkapkan Christie, menduga kuat sepupunya itu meninggal dunia karena menjadi korban penganiayaan aparat Kepolisian sejak ditangkap secara mendadak pada Kamis (6/8) lalu.

Christie menyatakan, pihak keluarga saat ini berencana untuk melaporkan kasus tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
Pasca insiden tersebut, Christie berujar bahwa saat ini kondisi keluarga Alfred di Batam masih dalam trauma psikologis. Pihak keluarga, ujar dia, juga masih menerima intimidasi yang tidak wajar.

Kami dengar juga dari sana keluarga ketakutan. Ada intimidasi yang tidak wajar yang dirasakan oleh keluarga di sana, ujarnya tanpa menyebut pihak yang diduga melakukan intimidasi.

Dan melalui chat Christie menambahkan bahwa Otong (Hendri) merupakan tulang punggung satu-satunya tidak hanya untuk istri dan kedua anaknya tapi juga untuk ibu dan kedua adiknya yang belum menikah.

“Kami keluarga meminta kompensasi dan pergantian yang wajar karena setelah ka Otong meninggal tidak ada lagi tulang punggung untuk keluarga setelah kepergian papanya (Alm) Hengki,” chat Christie.

(Pihak keluarga, Christie, menduga kuat sepupunya itu meninggal dunia karena menjadi korban penganiayaan aparat Kepolisian sejak ditangkap secara mendadak pada Kamis (6/8) lalu.) (ART/valito.id)

Christie juga membantah pernyataan salah satu pihak yang menyebut bahwa korban meninggal akibat mengidap penyakit asma. Dia mengaku membantah keras pernyataan tersebut sebab tak ada keluarga Hendri punya riwayat penyakit asma.

Baik dari pihak keluarga dari papa, maupun mamanya enggak ada asma. Jadi kecil kemungkinan Kak Otong ada asma, katanya.

Luka Lebam

Otong sapaan akrab keluarga terhadap Hendri ditemukan meninggal dunia dengan luka lebam pada Sabtu (8/8) lalu, usai dua hari ditangkap oleh aparat kepolisian dari Polresta Barelang, Batam.

Pihak keluarga yang dikabari pihak Kepolisian, mendapat jenazah Hendri sudah berada di ruang jenazah rumah sakit Budi Kemuliaan dengan kondisi badan penuh luka lebam dan kepala dibungkus plastik.

Hingga kini, pihak keluarga juga tak mengetahui alasan penangkapan terhadap Hendri. Sejak ditangkap pada Kamis (6/8), polisi belum menunjukkan bukti surat penangkapan maupun surat perintah penggeledahan terhadap korban.

Dihubungi terpisah, Kapolresta Barelang Kombes Purwadi Wahyu Anggoro menjelaskan, pihaknya masih menunggu hasil visum dari tim medis RS Bhayangkara, Polda Kepri. Ia juga membantah perihal dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh anggotanya terhadap Hendri.

Penangkapan sesuai prosedur, tidak akan ada penganiayaan, terkecuali melawan, polisi berhak melakukan upaya paksa, ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu (12/8).

Pewarta: ART
Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan