Di Indonesia, pukat tarik 2 hanya beroperasi di Perairan Sei Berombang

  • Bagikan
Toke pukat tarik 2 meraup keuntungan dalam memperkerjakan anak di bawah umur.
banner 468x60

VALITO.ID | LABUHANBATU | Ironis memang tetapi tidak ada upaya aparat pemerintah untuk menghentikan penangkapan ikan pukat tarik 2 yang menurut Undang-undang telah di larang. Dari dampak yang di timbulkan sangat membahayakan habitat perairan di Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhan batu Sumatera Utara.

Menurut warga, pukat tarik 2 ini sudah di larang di Indonesia tetapi di perairan Sei Berombang tumbuh subur. Ada dugaan kelompok atau oknum yang membeking sehingga pemerintah pusat tidak berdaya menghentikanya.

banner 336x280

Percuma ada Undang-undang, tetapi pukat tarik 2 banyak yang beroperasi. Kami heran, di Indonesia pukat tarik 2 cuma di sini saja yang menangkap ikan, ujarnya penuh keheranan.

Dari beberapa sumber di peroleh, pengoperasian pukat tarik 2, beberapa masukan yang di dapat dari sisi lain yakni adanya transaksi bahan bakar berjenis solar yang diduga illegal serta memperkerjakan anak di bawah umur.
Pengoperasi Pukat tarik 2 sangat kental pelanggaran hukum karena berimbas pada kerugian materi dan juga ekplotasi anak.

Dimana saat akan beroperasi kapal boat memakai bahan bakar yang cukup banyak sekitar 2 ton hitungan itu seperti ungkapan seorang warga penjual minyak eceran. Kapal boat pukat 2 terdiri dari 3 buah kapal dan setiap kapal membutuhkan 6 drum bahan bakar berjenis solar.

Solar di beli dari agen dan di jual ke pemilik pukat tarik, kok aku ngatar 20 jirigen, setiap hari, ungkapnya polos.

Ketika di tanya jenis minyak apakah Industri atau Subsidi, pengecer tersebut hanya mengambil langsung dari mobil tangki ke pemilik yang di ketahuinya tidak memiliki izin jual berupa SPBU karena penyaluran minyak di rumah warga.

Datang tangki, langsung di pindahkan ke jirigen pakai selang, bukan di kayak di SPBU, pakai argo meter, terangnya waktu itu, Kamis, (4/6/2020).

Sedangkan efek domino lain terjadi dugaan ekploitasi anak yang di lakukan pengusaha pukat tarik 2 sudah berlangsung lama meskipun itikad baik untuk membantu orang tua tetapi secara Undang-undang itu tetap salah.
Hal itu di katakan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Labuhanbatu, Azhar Harahap menyikapi dugaan anak di bawah umur yang ada di rekaman video.

(Toke pukat tarik 2 meraup keuntungan dalam memperkerjakan anak di bawah umur.) foto: Zainul Hasibuan.

Pasal 68 UU No.13 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Dan dalam ketentuan undang-undang tersebut, anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 tahun. Berarti 18 tahun adalah usia minimum yang diperbolehkan pemerintah untuk bekerja, jelas Azhar Harahap.

Kita memang melihat ada upaya seolah memperkerjakan anak di bawah umur tidak salah karena inigin membantu teman orang tua, tetapi sisi lain Undang-undang melarang dan pengusaha pasti di untungkan, tukas Azhar.

Di tambahkan Azhar Harahap, bahwa sebenarnya persoalan pukat tarik 2 ini dapat di katakan sebuah sumber rezeki ilegal bagi sekelompok mafia yang di bekingi kekuatan penegak aturan.
Beredarnya bahan bakar solar, perusakan habitat perairan akibat tutup matanya pihak yang punya tugas untuk menjalankan undang-undang, dugaan penggelapan pajak bagi pengusaha pukat tarik 2 dan penjualan bahan bakar berjenis solar.

Sebelumnya juga sudah di beritakan, kerusakan habitat Perairan Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu serta hasil tangkapan ikan yang sangat menurun menjadi perhatian yang harus disikapi. Keberadaban pukat tarik 2 yang melakukan penangkapan ikan menjadi salah satu peyebabnya.

Beberapa nelayan tradisional mengatakan keluhan nasib mereka beberapa tahun ini. Hasil tangkapan drastis menurun. Sementara para pemilik pukat tarik 2 berhasil sukses dengan perolehan pertahun Rp 1,5 milyar sampai 3 milyar.

Hitungan ini berdasar kabar yang didapat dari gaji tekong perbulan 25 juta sampai dengan 30 juta perbulan.

Dengan banyaknya boat pukat 2 beroperasi sekitar 40 set ini, membuat pencari ikan memakai sistem penjaringan merasa terancam. Pendapatan tidak lagi sesuai, namun hingga kini tidak ada upaya pemerintah menertibkan para pencari ikan menggunakan pukat tarik 2.

Tekong itu di gaji 10 persen dari hitungan pendapatan perbulan, kira kira 25 sampai 30 juta lah yang diterima tekong, ungkap Asri salah seorang dari nelayan, Kamis, (4/6).

Pewarta: Zainul Hasibuan
Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan