Demi menyambung hidup, Juli rela jadi kuli bangunan untuk kebutuhan sehari-hari

  • Bagikan
Demi menyambung nafas ia harus rela bersakit-sakit menjadi seorang kuli bangunan. dengan bersusah payah berparas menantang teriknya matahari. Senin (24/8/2020 ).
banner 468x60

VALITO.ID | ASAHAN | Hidup tampak semakin sulit pahit di rasakan.Tingkat kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia, semakin membuat yang hidup di bawah garis kemiskinan bertambah banyak. Inilah nuansa bangsa Indonesia negerinya kaya belum kita rasakan buah manisnya.

Tak hanya itu, sulitnya mengakses lapangan pekerjaan yang layak bagi kaum hawa, seolah menambah daftar panjang kisah suram kemiskinan di negeri yang kaya raya ini.

banner 336x280

Hidup sendiri memang bukan perkara mudah untuk dijalani oleh seorang Juli. Terlebih, sang Ayah dan Ibundanya sudah tiada yang harusnya menemani dirinya melewati hidup.

Demi menyambung nafas ia harus rela bersakit-sakit menjadi seorang kuli bangunan. dengan bersusah payah berparas menantang teriknya matahari. Senin (24/8/2020 ).

Jika boleh memilih, siapapun manusia didunia ini pasti ingin dilahirkan dari keluarga yang kaya raya, mapan dan tercukupi segala kebutuhan hidupnya. Namun apa daya, semua manusia diharuskan ikhlas menerima suratan takdirnya masing-masing. Hal inilah yang kini dihadapi oleh seorang wanita tangguh asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Ditengah himpitan ekonomi dan kebutuhan hidup, Juli harus bekerja susah payah untuk memenuhi kebutuhannya. Hidup dalam lingkaran kemiskinan, membuat dirinya harus memutar otak agar ia tak kelaparan. Pekerjaan kasar sebagai buruh pun ia lakoni demi sesuap nasi.

Menjadi seorang kuli bangunan mungkin adalah salah satu pekerjaan yang sangat sulit bagi seorang wanita. Dengan peluh raut wajah capeknya, Juli harus rela untuk mensyukuri pekerjaan yang di jalani, terlebih lagi jika kita bisa mengerjakannya.

Dalam hal ini pemerintah harus lebih peka terhadap rakyat agar berupaya menciptakan lapangan kerja demi anak bangsa dan upaya menciptakan pengentasan kemiskinan, pemimpin berpikir untuk rakyat serta tidak cuek dan apatis. Karena Anda adalah pemimpin rakyat.

Pewarta: Satria Bakti
Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan