Iklan

Ansor dan Tantangan Kebangsaan

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta. VALITOD.ID Sebuah peran organisasi dalam menghadapi persoalan zaman maupun bangsa penting untuk dirumuskan dan didiskusikan. Hal ini tak lain dimaksudkan untuk mendorong perkembangan baik di tubuh organisasi itu sendiri, maupun bagi masyarakat. Serta, ia turut memberikan sumbangsih, tak hanya pemikiran namun juga tindakan konkrit, dalam menjawab tantangan zaman yang terus berkembang. Ansor sebagai organisasi pemuda di bawah naungan NU mencoba melakukan peran itu. Sebuah langkah inisiatif ini dituangkan sepenuhnya dalam buku Ansor dan Tantangan Kebangsaan:Sebuah Refleksi Demografi Politik, Dari Social Capital Menuju Human Capital. Karya ini lahir dari tangan seorang pemuda Ansor, Rizqon Halal Syah. Dalam buku itu, kita bisa melihat bagaimana kegelisahan seorang pemuda tentang berbagai macam persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Ketika membacanya, kita seolah dibawa ke dalam sudut pandang seorang pemuda yang kritis dan mau terlibat dalam suatu gerakan perubahan.

Pembicaraan dalam buku ini banyak mengungkap persoalan yang menjadi perhatian publik dewasa ini, antara lain ideologi islam garis keras, bonus demografi, sampai Masyarakat Ekonomi Asean. Di sini kita bisa melihat tiga macam tantangan zaman yang secara konseptual dan praksisnya berbeda namun ketiganya saling berjalin kelindan. Tak bisa dipungkiri, paham garis keras dalam agama Islam sudah menjadi kegelisahan tak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi pemeluk kepercayaan lain, tak terkecuali masyarakat secara luas. Paham agama Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia) dipegang teguh oleh Nahdlatul Ulama untuk tetap bersikap toleran terhadap berbagai macam perbedaan di masyarakat, namun tidak untuk sikap kekerasan dan anarkisme. Dalam hal ini, para pemuda harus dibentengi untuk tidak gampang terprovokasi dengan isu kebencian dan intoleransi yang identik dengan gerakan garis keras. Ansor berperan dalam menyediakan wadah organisasi dan membuka ruang dialog perihal paham Islam, yang tak lain tujuannya adalah demi memutus rantai kekerasan. Ansor mampu membentuk karakter pemuda yang toleran serta berjiwa relijius. Menakar bermacam peran di atas, rumusan strategi kebudayaan menjadi titik perhatian Ansor. Pemuda Ansor harus mampu merangkul berbagai macam elemen masyarakat dari kelas sosial dan kebudayaan yang berbeda, menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, serta berperan aktif dalam dakwah Islam yang toleran.

banner 336x280

Isu publik yang juga tak luput dari pembahasan buku ini adalah persoalan kependudukan, atau istilah ilmiahnya bonus demografi. Perhatian pada bonus demografi sangat tepat mengingat Ansor merupakan organisasi pemuda, yang akan melahirkan bibit bangsa yang berkualitas. Bonus demografi memberikan keuntungan dengan berlimpahnya penduduk usia produktif di Indonesia. Keberlimpahan penduduk tersebut sampai saat ini dipandang sebagai keuntungan yang mampu mengembangkan potensi ekonomi di Indonesia. Bidang lain seperti budaya, politik maupun sosial cenderung dianak tirikan. Usulan pemikiran kritis dalam buku ini menangkap momen bonus demografi dalam bidang kebudayaan dan sosial. Sulit menyangkal bahwa kita saat ini sedang menerima invasi kebudayaan dari negeri seberang baik Asia, Eropa maupun Amerika. Jika ini tidak dibendung, maka nilai plus demografi ini nantinya hanya akan menghasilkan bibit yang cenderung konsumtif, semakin jauh dari harapan bangsa yang produktif. Dalam hal ini, Ansor akan berperan aktif dalam memaksimalkan potensi penduduk usia produktif untuk menghasilkan kualitas warga Negara yang kuat secara mental, nasionalis serta bermoral mulia. Secara sosial, efeknya bisa merambah kepada persoalan kesejahteraan masyarakat, bahwa dua hal yang mutlak diperangi oleh orang Islam adalah kemiskinan dan kebodohan.[mks_pullquote align=”right” width=”400″ size=”17″ bg_color=”#000000″ txt_color=”#ffffff”]

Judul: Ansor dan Tantangan Kebangsaan

Penulis: Rizqon Halal Syah A.

Prolog dan Sambutan :  KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto, dan H. Nusron Wahid

Penerbit : REPUBLIKA

Cetakan : 1, Oktober 2015

Halaman:  206 Hal + Indeks

[/mks_pullquote]

Sorotan masalah kebangsaan yang menjadi kegelisahan Rizqon Halal Syah berikutnya adalah Masyarakat Ekonomi Asean. Pertanyaan yang paling umum dilontarkan publik, tak lain yakni siapkah kita dalam berkompetisi? Pertanyaan itu pantas diutarakan mengingat masih banyak persoalan dalam negeri yang belum terselesaikan. Kekhawatiran ini didukung dengan keadaan ekonomi Indonesia yang sedang lesu akhir-akhir ini. Menuju masyarakat ekonomi Asean akan membuka kran bagi arus masuk produk dan komoditas dari luar negeri. Mau tidak mau, penguatan industri dalam negeri mesti diutamakan sebagai langkah persiapan dalam menyambut pasar globalisasi tersebut. Dengan cerdik Rizqon mengubah pola pikir bahwa perkembangan dan perkembangan ekonomi sebaiknya tidak bertumpu pada sumber daya alam, tetapi mesti bertumpu pada basis pengetahuan. Tantangan ini disambut dengan baik oleh Ansor sebagai basis perkembangan inteletualitas anak-anak muda Indonesia. Dalam hal ini, Ansor menempatkan Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) sebagai ruh pembangunan karakter berbasis pengetahuan.

Beragam permasalahan bangsa dan rumusan peran dari Ansor, dalam buku ini, berujung pada sebuah tawaran dari Rizqon, yang saya fikir merupakan ide yang segar yakni Social Capital menuju Human Capital. Pemikirannya merangkum maksud yang hendak diwartakan bukan hanya secara khusus bagi pemuda Ansor, tetapi bagi seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Social capital dalam hal ini adalah sebuah pola pikir yang lebih mengutamakan kualitas relasi sosial dalam mendorong perkembangan. Pola pikir ini harus karena bisa menjerumuskan pada perkara nepotisme. Hendaknya kita lebih mengeksplorasi kualitas diri kita untuk menjadi daya tawar yang kompetitif demi menjawab tantangan dan persoalan bangsa Indonesia. Fokus pada kualitas manusia akan lebih mengantarkan pada perkembangan bangsa, karena berbagai macam permasalahan nantinya akan jatuh di tangan para ahlinya.[YG Prasisko]

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan