3 bulan tak gajian, buruh harian Pemkab Labuhanbatu mogok kerja

  • Bagikan
Teks Foto: Puluhan Buruh Harian Lepas (BHL) Pemkab Labuhanbatu melakukan aksi mogok kerja di halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jalan WR Supratman Rantauprapat, karena sudah 3 bulan tidak gajian, Senin (24/8). Mereka menuntut upah mereka segera dibayar, karena harus memberi makan anak dan istri di rumah. (Foto: Dok/Mortan/Zainul/valito.id)
banner 468x60

VALITO.ID | LABUHANBATU | Puluhan Buruh Harian Lepas (BHL) di jajaran organisasi perangkat daerah Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu, Sumatera Utara, mogok kerja, Senin (24/8), depan Kantor Dinas PUPR di jalan WR Supratman. Aksi itu dipicu sebagai bentuk protes ,terhadap Pemkab yang sudah sampai 3 bulan tidak memberi upah kerja mereka.

Para BHL menceritakan dan mengaku sejak Juni belum  menerima upah, sedangkan dapur harus berasap. Mereka menuntut upah mereka segera dibayar Pemkab, karena mereka harus memberi makan anak dan istri di rumah.

banner 336x280

“Kami bekerja sebagai BHL Pemkab Labuhanbatu di bawah naungan OPD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), tapi upah kami tidak dikasih sejak bulan Juni,” ungkap Charly, selaku ketua kelompok BHL yang melakukan aksi mogok kerja menjawab wartawan di halaman Kantor Dinas PUPR Labuhanbatu Rantauprapat.

Menurut Charly, BHL ini terbagi empat kelompok. Ada kelompok pekerja yang bertugas membersihkan taman kota Rantauprapat. Ada yang kerja memangkas bunga taman dan taman jalan dalam kota, sebagian membersihkan serta menyiram bunga taman dan sebagian mrnyiangi rumput bahu jalan dalam kota.

“Kami pekerja BHL ada 50-an orang. Satu kelompok ada sepuluh orang dan ada yang lima belas orang. Jadi, di sini kami mempertanyakan gaji kami kepada atasan kami, Kepala Dinas PUPR atau kepala bidang yang membidangi taman, sebutnya.

Namun, mereka sangat kecewa karena tidak ada satu orang pun atasan yang membidangi pekerjaan BHL itu di kantor tersebut hingga mereka bubar dan pulang.

Sialnya, tiada ada satu orang pun yang mau menemui kami di luar kantor ini. Kami sudah tiga bulan tidak gajian. Mau makan apa kami, Pak? Utang sudah banyak, anak dan istri harus kami kadoh makan, Pak,” ungkap Charly dan rekannya, Saipul.

Dia menyebut upah mereka per bulan tidak seberapa. Pekerja taman bunga Pemkab hanya diupah maksimal Rp1.080.000 per bulan, tapi itupun macet.

“Kalau kami kerja penuh satu bulan sampai tanggal 30, upah kami bisa mencapai satu juta delapan puluh ribu rupiah. Kecil sebenarnya, Pak. Tapi kami sangat berharap,” ujar Charly.

Menurut BHL, Halim, sudah 3 kali berganti Bupati Labuhanbatu, baru kali ini macet pembayaran upah mereka.

“Selama kami kerja buruh di Pemkab Labuhanbatu, baru masa bupati ini gaji kami sering kali macet. Yang terakhir ini saja sampai tiga bulan belum dibayar. Tidak seperti biasanya setiap bulan lancar. Apalagi masa bupayi yang lalu. Kesalnya, satupun tidak ada yang mau menjawab keluhan kami. Bagaimana selanjutnya gaji kami BHL ini, perlu penjelasan,” keluh Alim.

Ketika awak media hendak mengonfirmasi persoalan tersebut, namun Kadis PUPR Kabupaten Labuhanbatu Safrin Hasibuan sedang tidak berada di kantor. Dikonfirmasi melalui telepon, HP-nya tidak dapat dihubungi dan tidak aktif.

“Tidak ada Pak Kadis, Pak. Pergi kunjungan ke Pasuruan sama bupati dan jajaran OPD,” ujar staf ASN di kantor Dinas PUPR itu.

Pewarta: Zainul Hasibuan

Editor: Arif

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan